Beranda > Editorial > GUN-DOWN: Lupakan Camp Nou, United Menunggu

GUN-DOWN: Lupakan Camp Nou, United Menunggu



Gagal meraih gelar Piala Liga di depan mata, kalah kelas dari Barcelona, apa lagi yang bisa menyelamatkan musim Arsenal? Masih ada Premier League dan Piala FA. Mampukah?

Follow penulis blog Catatan Bola di @zulfikaralex

Di Amerika, gelar pemain terbaik biasa disebut MVP (Most Valuable Players). Tapi tidak di Spanyol. MVP bisa diartikan sebagai Messi, Villa, Pedro.

Tiga pemain yang jadi muara tiki-taka Xavi, Iniesta, dan Busquets dengan hasil lebih dari 85 gol Barcelona musim ini.

Termasuk di Liga Champions.

Seperti biasa, tak ada yang aneh dari Barcelona. Tim yang memainkan “sepak bola dari planet lain”. Istilah yang juga diamini Wenger dan Ibrahim Afellay.

Aksi-aksi brilian Messi dan satu gol kejeniusan Xavi melengkapi drama “luar angkasa” di Nou Camp, membawa Barca ke perempat final Liga Champions dengan agregat 4-3.


TIKI-TAKA: Gambaran penguasaan bola Barcelona (biru) dan Arsenal (merah). Terlalu ruwet bukan?

Dua tahun berturut-turut Arsenal harus mengakui superioritas Barca, yang kali ini tampil tanpa Puyol dan Pique.

Penguasaan bola mutlak milik Blaugrana. Sama seperti Arsenal saat bermain menghadapi Stoke City atau Wigan di Premier League.

Sebelum pertandingan, Pep Guardiola mengatakan, “Pemain seperti Wilshere banyak kami miliki di tim kedua Barca,”

Pep akhirnya melihat sendiri aksi-aksi pemain dari ‘tim kedua Barca’, tentu dengan kualitas yang tidak ia bayangkan sebelumnya.

Wilshere belum pernah bermain di tim inti Barcelona. Wilshere masih 20 tahun. Dia belum akan menggantikan Xavi atau Iniesta andai mengawali karir di La Masia.


“Jangan sedih nak!” Pep Guardiola menghibur (atau mau mencium?) Jack Wilshere usai pertandingan

Sama seperti Fabregas yang melakoni ‘debut’nya di Nou Camp, Wilshere tak bermain buruk. Sesuatu yang membuat Fabio Capello tersenyum.

Van Persie mencoba merusak konsentrasi permainan Barca dengan memancing emosi Dani Alves. Beruntung Van Persie tak mendapat kartu merah saat mendorong muka Alves di babak pertama meski akhirnya ia harus keluar lapangan saat tak mendengar peluit offside di babak kedua.

Selalu ada harapan untuk meraih titel Eropa untuk Arsenal, seiring kematangan Jack Wilshere dkk.

Hasil identik pada dua tahun berturut-turut ini membuat Arsenal seperti adik kandung Barcelona.

Sulit bagi sang adik mengalahkan kakak. Tapi cukup menjadi modal dan pelajaran untuk menghadapi pertarungan domestik.

Ya, Arsenal masih punya dua tugas besar dengan gengsi yang tak kalah besar. Premier League dan Piala FA.

Manchester United sudah menunggu.

*) Baca juga editorial di Bola.net

Follow Catatan Bola di Twitter Join Catatan Bola di Facebook

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: