Beranda > Editorial > Kaita Ulangi Tragedi Escobar?

Kaita Ulangi Tragedi Escobar?

Bek timnas Kolombia Andres Escobar menemui ajalnya secara tragis setelah ditembak di luar bar El Indio di pinggiran kota kelahirannya di Medellin, Kolombia pada 2 Juli 1994. Sebelum keluar bunyi tembakan, terdengar teriakan panjang “goooool….” menirukan suara khas komentator sepakbola ala Amerika Latin. Tercatat sebanyak 12 kali teriakan yang dikeluarkan sesuai dengan jumlah peluru yang dihamburkan.


Mendiang Andres Escobar saat masih bermain untuk Kolombia

Escobar harus menebus “dosanya” karena melakukan gol bunuh diri yang menyebabkan kekalahan Kolumbia 1-2 dari tuan rumah AS di babak penyisihan Piala Dunia 1994, peristiwa yang terjadi hanya berjarak sepuluh hari sebelumnya. Laporan berbagai media menyatakan bahwa Escobar dihabisi oleh kelompok sindikat judi yang bertaruh dalam jumlah besar dengan keyakinan Kolombia akan lolos ke babak kedua.

Tidak kurang dari 120.000 orang mengantar kepergian Escobar ke tempat peristirahatan terakhirnya. Untuk menghormati Escobar, pemerintah Kolombia pun membangun patung dirinya di depan stadion Atletico Nacional.


Gol bunuh diri Andres Escobar

Alexi Lalas, pemain Amerika Serikat yang menjadi lawan Escobar dalam pertandingan tersebut, menyatakan bahwa sepak bola dunia mengalami hari-hari paling gelap akibat insiden tersebut.

“Ini adalah sebuah ironi karena Escobar adalah pemain bertahan terbaik. Setiap pemain bertahan bisa saja melakukan gol bunuh diri, meski itu hanya gara-gara bola yang menimpa mereka dan kemudian masuk ke gawang sendiri,” kata Lalas saat itu.

Kembali Terulang di Piala Dunia 2010?

Di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, kekerasan terhadap pemain sepak bola kembali terulang, meski baru dalam bentuk ancaman.

Kali ini yang mendapat ancaman adalah pemain Nigeria, Sani Kaita. Berbeda dengan Escobar, Kaita bukan melakukan gol bunuh diri yang membuat timnya kalah 1-2 dari Yunani di pertandingan penyisihan Grup B, tapi melakukan pelanggaran sehingga mendapat kartu merah.

Tapi Kaita dianggap turut “berdosa” akibat kartu merah tersebut dan ancaman pembunuhan pun bermunculan dari pendukung di Tanah Airnya sendiri, Nigeria.

Sebelum Kaita diganjar kartu merah akibat menendang pemain Yunani Vassilis Torosidis, Nigeria dalam posisi unggul 1-0. Keluarnya Kaita membuat benteng pertahanan Nigeria menjadi rapuh dan Nigeria pun kebobolan dua gol dan akhirnya menyerah 2-1. Para pendukung tim Nigeria yang berada di dalam negeri pun marah dan menganggap Kaita harus bertanggung jawab atas dosa tersebut.


Wasit mengeluarkan kartu merah untuk Kaita

“Kaita hingga kini sudah menerima lebih dari 1.000 ancaman di emailnya yang datangnya dari Nigeria,” kata Juru Bicara Timnas Nigeria, Peterside Idah.

“Kami menganggap ancaman-ancaman ini sangat serius. Kami sudah berbicara dengan Pemerintah Nigeria untuk memberitahu mereka tentang ancaman itu dan juga mengirim surat kepada FIFA untuk memberitahu mereka,”

“Kami menganggapnya sebagai masalah sangat serius karena dia anak muda yang mengabdikan dirinya kepada negara dan sepak bola,”

Ancaman tersebut membuat pemain berusia 24 tahun tersebut sangat terguncang, meski ia selalu mendapat dukungan moral dari rekan-rekan satu timnya.

Dengan dua kali kekalahan, setelah menyerah 0-1 dari Argentina, Nigeria dipastikan tersingkir dari persaingan dan akan menghadapi Korea Selatan pada pertandingan terakhir di Durban, Selasa (22/6).

Tentunya tidak ada yang berharap Kaita akan mengalami nasib yang sama seperti Escobar sekembalinya ke Nigeria seusai Piala Dunia 2010.


Mendiang kiper timnas Jerman, Robert Enke

Kematian tragis para pemain sepak bola tidak hanya disebabkan oleh pembunuhan oleh mereka yang kecewa, tetapi juga akibat bunuh diri karena tidak tahan dengan tekanan yang dihadapi.

Sergio Lopez Segu, gelandang klub raksasa Barcelona pada 1990-an, tewas secara tragis setelah menabrakkan diri ke arah kereta api yang melaju kencang pada 4 November 2006.

Sembilan tahun setelah Piala Dunia pertama di Uruguay pada 1930, sejarah juga mencatat kematian pemain sepak bola yang menimpa Matthias Sindelar, pada 23 Januari 1939 akibat keracunan monoksida bersama pacarnya Camilla Castognola di apartemennya di Wina.

Sampai saat ini, kematian Sindelar masih diliputi misteri. Beberapa laporan mengatakan bahwa ia nekad bunuh diri, tapi ada yang menyatakan dibunuh secara halus oleh Nazi karena menolak untuk mewakili Jerman.

Yang terbaru dan cukup mengguncang adalah kematian bunuh diri kiper timnas Jerman Robert Enke karena depresi dan masalah keluarga. Padahal Enke adalah calon kiper nomor satu Jerman di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. (*)

  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.