Musim Terburuk Juve Pasca Calciopoli
Bila anda fans Juventus, kekalahan telak 0-3 dari AC Milan hari Minggu (10/1) kemarin mungkin tidak membuat anda kaget. Faktanya, kekalahan memang sedang akrab dengan La Vecchia Signora, baik di kompetisi domestik maupun Eropa.

Juventus kontra AC Milan, Derby d’Italia yang dimenangkan Rossoneri
Dalam lima pertandingan terakhirnya di Serie A, Hasan Salihamidzic dkk telah tiga kali menelan kekalahan, dua di antaranya dari klub “gurem”, Bari dan Catania.
Di ajang antar klub Eropa, kekalahan memalukan 1-4 dari Bayern Munich pada laga pamungkas penyisihan grup Liga Champions membuat Bianconeri gagal lolos ke fase knockout dan harus puas berlaga di kompetisi kasta dua, Liga Europa.
Namun kekalahan yang diderita Juventus dari AC Milan di Turin menjadi sorotan negatif mengingat gengsi laga bigmatch yang bahkan disebut Adriano Galliani sebagai “Derby d’Italia” yang sesungguhnya.
Sudah bisa ditebak, rentetan hasil negatif Juventus memantik emosi Juventini. Suporter yang tidak puas dengan penampilan timnya bertindak anarkis dengan membakar kursi stadion. Para suporter juga sempat terlibat bentrokan dengan polisi di luar stadion.

Suporter Juventus membakar kursi stadion saat kalah lawan Milan
Leonardo pantas bangga dengan kemenangan atas rivalnya tersebut mengingat Milan mampu mencetak tiga gol tanpa balas di kandang Juve tanpa kehadiran trio pilarnya, Andrea Pirlo, Clarence Seedorf, dan Alexandre Pato.
Bagi Milanisti, kesuksesan Ronaldinho dkk mengubur Juventus seperti menjadi jawaban sekaligus pembenaran atas pernyataan Galliani. JuventusInter Milan. boleh unggul koleksi scudetto sebanyak 27 kali, namun Milan memperbesar peluang mereka menambah gelar musim ini sekaligus bersaing dengan rival satu kota di capolista,
Sedangkan bagi Juventus, enam kali kalah hingga giornata ke-19 dan tertinggal 12 angka dari Inter Milan di puncak klasemen yang terus mendulang tiga poin bukan menjadi catatan ideal bagi sebuah tim yang mengejar scudetto.
Juventus butuh empat kemenangan yang dibarengi empat kekalahan Inter Milan untuk mengejar angka Diego Milito dkk. Sebuah skenario yang hanya akan menjadi bahan sindiran Jose Mourinho.
Namun Gianluigi Buffon yang absen pada laga menghadapi Milan karena masih cedera yakin timnya masih tetap berada di dalam jalur perburuan scudetto musim ini. Optimisme yang mungkin masih tetap terjaga hingga Juventus tak lagi kehilangan poin pekan berikutnya lawan tuan rumah Chievo.

Alex Manninger tertunduk setelah gawangnya tiga kali dibobol Rossoneri
Bagaimana bila Juventus kembali kehilangan poin di Marc’Antonio Bentegodi? Masihkah Jean-Claude Blanc tetap pada pendiriannya bahwa Ciro Ferrara adalah pelatih muda yang akan menjadi bagian dari rencana jangka panjang Juventus?
Juventus butuh pelatih berpengalaman dan berkarakter untuk mengembalikan dominasi mereka di Italia pasca kasus calciopoli empat tahun silam. Mengganti pelatih di bulan Januari bukan solusi terbaik, namun jalan pintas yang paling mungkin ditempuh selain mendatangkan pemain baru.
Lantas, siapa calon allenatore pengganti Ferrara yang belum genap semusim menangani tim senior? Guus Hiddink dan Alberto “Zac” Zaccheroni menjadi dua kandidat kuat dengan Marcello Lippi disebut-sebut bakal kembali ke mantan klubnya itu setelah tugasnya bersama Azzurri selesai di Piala Dunia 2010.
Peluang Zac melatih Juventus cukup besar mengingat pelatih yang sukses bersama Udinese itu kini sedang menganggur dan diperkirakan bakal dikontrak Juventus hingga akhir musim untuk membangun fondasi tim yang kokoh sebelum kedatangan pelatih permanen musim depan.
Ironisnya, Zac merupakan mantan pelatih AC Milan, tim yang akhir pekan lalu mengalahkan Juventus. Uniknya, klub terakhir yang dilatih Zac adalah Torino, rival sekota Juventus.
Baca juga:
Ironi Kekalahan Bianconeri
Juventus vs Milan, Derby d’Italia Versi Galliani


