(Tidak) Banyak Jalan Menuju Roma

Perjuangan klub-klub Eropa mencapai puncak Liga Champions dimulai. Walau ada seribu jalan menuju Roma, hanya ada satu cara bertakhta di Stadio Olimpico, pada final yang akan digelar 27 Mei 2009 mendatang. Di bawah aura imperium Romawi yang tersohor ke seluruh penjuru bumi, harapan munculnya duel-duel berkelas pun nyaring dikumandangkan.
Bertemunya tim-tim dari kutub utama sepak bola Benua Biru (Inggris dan Italia) di babak 16 besar, Inter Milan vs Manchester United (MU), Chelsea vs Juventus, Arsenal vs AS Roma, hingga pertarungan dua raksasa Real Madrid dengan Liverpool menjadi jaminan kualitas Liga Champions musim ini.
Walau undian yang mempertemukan tim-tim terbaik Eropa itu di fase knock-out pertama dilakukan menurut prinsip fairplay, anugerah duel ketat tidak dapat dihindari.
Percaya atau tidak, hanya tim yang mampu bereinkarnasi dengan substansi peradaban Romawi sajalah yang akan membawa pulang trofi Liga Champions.
Catatan masa lalu menunjukkan, wilayah imperium Romawi yang membentang dari Semenanjung Iberia ke utara Jazirah Arab maupun dari Afrika Utara hingga Anglo-Saxon tidak dicapai seperti membalik telapak tangan, selain kerja keras, pengorbanan, dan semangat yang ditunjang ilmu menjadi faktor utama yang membuat pengaruh Roma tidak tergoyahkan hingga detik ini.
Terbukti, di masa modern pun status penting Roma tidak pudar sebagai pusat utama agama Katolik dunia dengan pengaruh signifikan.
Dimulai usaha Romus dan Romulus mencari pengakuan sebagai anak haram yang kehadirannya di bumi tidak diharapkan hingga diasuh seekor serigala, napas perjuangan bangsa Romawi berlanjut ke tataran yang lebih logis dari sekadar mitologi.
Di awal upaya membangun suatu kekaisaran besar, Romawi, misalnya, harus mencurahkan seluruh potensi melawan bangsa Kartago yang kala itu menjadi penguasa tunggal Laut Mediterania.
Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, munculnya para gladiator seperti Spartakus yang berupaya keluar dari belenggu perbudakan demi kebebasan, kemerdekaan hakiki, maupun harga diri, juga membuktikan pentingnya perjuangan hidup. Begitu pula usaha Gereja Katolik mengembangkan kekristenan ke seluruh dunia dengan korban harta benda maupun jiwa yang tak terhitung jumlahnya.
Dari semua kebesaran yang didapat imperium Romawi, satu benang merah yang dapat ditarik adalah bahwa tidak ada yang gratis di bumi ini.
Setiap keinginan untuk menjadi yang terbaik harus dicapai dengan perjuangan, pengorbanan, kerja keras, dan kesungguhan.
Selain I Nerazzurri, The Red Devils, The Blues, TheGunners, The Reds, Los Blancos, La Vecchia Signora, maupun Il Lupo, tantangan melanjutkan kebesaran Imperium Romawi itu ada di pundak Barcelona, Villarreal, Atletico Madrid, Olympique Lyon,Bayern Munich, Sporting Lisbon, FC Porto, hingga tim kejutan Panathinaikos.
Seperti Romus dan Romulus maupun Spartakus yang mencari pengakuan, kesempatan tim-tim kuda hitam memberi kejutan sangat besar.
Berkaca pada penampilan impresif di fase knock-out,ambisi El Submarino Amarillo, Los Rojiblancos, Les Gones, Os Leones, Prasinoi, maupun tuan rumah Roma yang masih hijau di Liga Champions tidak boleh dipandang sebelah mata klub-klub unggulan.
Sementara keperkasaan kaisar-kaisar Romawi dan para jenderal perangnya saat menaklukkan tanah jajahan untuk membuat sebuah imperium besar adalah contoh pas yang harus ditiru juara bertahan MU, kolektor trofi terbanyak Madrid, dua jagoan Italia–Inter dan Juventus–, spesialis turnamen Liverpool, hingga raksasa Katalan Barcelona yang sedang jadi buah bibir di Primera Liga.
Dengan materi yang berlabel bintang, yang mereka butuhkan hanyalah kebugaran, strategi jitu, dan mental juara.
(sindo)






